Menjelajah Tanpa Batas Menebar Perdamaian

Pengobatan HIV/AIDS

Juni 24, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

PENYAKIT yang disebabkan Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) sampai sekarang masih ditakuti karena sangat mematikan. Yang sekarang banyak diupayakan adalah pengobatan suportif, pengobatan infeksi oportunistik, dan antiretroviral.

Pengobatan suportif dimaksudkan untuk meningkatkan kondisi umum orang dengan HIV/AIDS (Odha). Cara yang ditempuh adalah pemberian gizi, obat, vitamin, dan kondisi psikososial yang baik. Dengan cara ini, Odha dapat melakukan aktivitas layaknya manusia sehat. Pengobatan suportif sangat perlu dan dapat dilaksanakan di rumah atau tempat pelayanan kesehatan yang sederhana.

Pengobatan terhadap infeksi oportunistik dilakukan karena kekebalan tubuh Odha sangat menurun. Pola infeksi oportunistik berbeda-beda bergantung pada pola mikroba dalam tubuh Odha dan kondisi lingkungannya. Pada kasus di RS dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta, didapati infeksi karena jamur atau kandidiasis di mulut dan kerongkongan (8 persen), tuberkulosis (40,1 persen), sitomegalovirus (28,8 persen), radang otak atau ensefalitis toksoplasma (17,3 persen), radang paru-paru atau pneumonia p carinii (13,4 persen), herpes simpleks (9,6 persen), dan infeksi paru-paru atau histoplasmosis paru (2 persen).

Selain penyakit tersebut, ada juga pengidap HIV/AIDS yang mengidap kanker, misalnya kanker kelenjar getah bening (limfoma malignum), kanker ganas yang ditandai dengan perubahan warna kulit mencolok (sarkoma kaposi), dan kanker leher rahim (serviks). Pengobatan terhadap kanker itu dilakukan melalui standar terapi penyakit kanker. Namun, ada HIV tanpa gejala (asimtomatik) sehingga diagnosis ditegakkan berdasarkan tes antiHIV.

Sementara itu, pengobatan antiretroviral dimaksudkan untuk mengurangi jumlah virus di dalam tubuh. Biasanya obat antiretroviral dipakai dalam dua atau tiga kombinasi untuk mencegah resistensi.

Antiretroviral terdiri dari kombinasi golongan Nukleoside Reverse Transcriptase Inhibitor (NRTI), Non-Nukleoside Reverse Transcriptase Inhibitor (NNRTI) dan Protease Inhibitor (PI).

NRTI dan NNRTI dipakai secara bersama-sama agar tubuh semakin kuat menghambat perkembangan (replikasi) virus. Kedua golongan obat ini bekerja pada tahap awal perkembangan virus, saat proses perubahan Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) menjadi Ribo Nucleic Acid (RNA). NRTI dan NNRTI menghambat terbentuknya RNA. Sedangkan antiretroviral golongan PI berfungsi menghambat terbentuknya protein baru yang bakal menjadi virus baru.

Sesuai anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bagi negara dengan kemampuan dana terbatas, kombinasi ARV yang dianjurkan yaitu 2 NRTI dan 1 NNRTI atau PI. Menurut dr Samsuridjal djauzi SpPD, terapi ARV yang diterapkan sekarang yaitu kombinasi tiga obat, yakni Zidovudine, Lamivudine dan Nevirapine. Ketiga obat itu digabung dalam satu tablet Zidovex-LN. Dr Samsuridjal Djauzi adalah Koordinator Program Akses Diagnosis dan Terapi Kelompok Studi Khusus AIDS (Pokdisus) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)/RSCM.

Obat itu diimpor dari perusahaan farmasi India, Aurobindo Pharma Ltd. Selain itu, ada kombinasi ZidovexL, berisi Lamivudine dan Zidovudine, serta obat tunggal Zidovudine dan Fluconazole (obat jamur) yang diimpor dari Thailand.

Kategori: Kehidupan
Ditandai:

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.